“Bang, 5000 aja..”, ujarnya pada petugas SPBU di Jalan YosSudarso, Rumbai. Ya, dia sedang mengisi bahan bakar bensin untuk motor Shogun yang dipinjamnya dari teman, Adi nama temannya. Isal dan Adi berteman, mereka satu kos dan satu kampus, namun beda jurusan. Isal memang sudah buat janji dengan Adi bahwa ia akan meminjam motor untuk ke pasar. Hari ini Isal memang pulang cepat, karena setiap hari Rabu ia kuliah hanya sampai jam 11 siang. “Adi, aku pinjam dulu ya motormu..”, kata isal kepada Adi sesaat hendak berangkat. “Brem…brem….”, Isal berangkat dengan membawa beberapa planning di dalam fikirannya kalau sudah sampai di pasar nanti, Pasar Pusat namanya. Planning ini sudah bergentayangan beberapa hari, bahkan minggu di dalam fikirannya. Isal merupakan remaja sederhana dan bersahaja, sebentar lagi akan menganjak 19 tahun. Isal memang suka memikirkan jauh kedepan, apa yang akan dilakukanya, apa yang akan diselesaikannya, semua difikirkan Isal. Kali ini ia memikirkan persiapan untuk pindah tempat tinggal dari tempat kosnya sekarang. Isal akan pindah ke asrama mesjid di kampusnya.
“Makasih bg…”, ucap Isal ramah dirangkai senyum melebarkan dari bibirnya. Shogun merah yang dikendarai Isal sudah mengaung untuk melanjutkan perjalanan Isal ke Pasar Pusat. Pasar Pusat adalah pasar yang cukup terkenal di kota pekanbaru ini. Pasar ini dikatakan Pasar Pusat karena letaknya dekat dengan pusat kota . Jarak rumbai ke pasar tersebut sekitar 5-10 km. Tetapi Isal bukan tipe anak yang menomor satukan ngebut dijalan. Sampai dengan selamat, lebih jadi prioritas Isal. “Wah cukup ramai, tapi nyantai aja lah, yang penting selamat..”, gumam Isal di atas kendaraanya.
Sekarang, motor yang dikendarai Isal terparkir di mulut toko dengan beragam lemari terlihat di kiri kanan toko tersebut. Ada lemari besar, lemari kecil, lemari 2 pintu, 3 pintu, dan lain-lain. Karena di tempat tinggal yang baru ini belum ada lemari, membeli lemari adalah agenda yang terbesar dalam fikiran Isal dalam kunjungannya ke Pasar Pusat kali ini, sekaligus lemari ini menjadi barang terbesar diantara semua barang yang harus Isal beli. Melihat ke kanan, ke kiri, akhirnya Isal menemukan lemari yang ia butuhkan. Lemari tersebut tingginya 1,5 meter, ada dua pintu dan kunci serta cerminya jadi pelengkap. Isal mulai tertarik dengan barang besar itu. Isal bertanya kepada penjual lemari tersebut, ibu-ibu paruh baya melayani Isal dengan ramah dan aura harap Isal membeli lemarinya, seraya berkata “kalau yang ini 300rb dek, langsung kami antar ke alamat adek..”. Isal rasa, itu cocok. Tetapi isal belum berani menawar, karena ia belum ada bawa uang sebanyak itu. Takut, sudah menawar tapi belum pasti beli, karena gak ada uang panjarnya, isal memutuskan untuk minta waktu. “Buk, kalau nanti saya jadi beli, saya ke sini lagi..”,kata Isal mengakhiri pertemuan itu sementara. “Brem..Brem…”, motor Isal yang sudah diputar mulai jalan. Sekarang Isal berencana akan menelpon ibunya, untuk memastikan Isal dapat restu membeli lemari itu. Isal putuskan untuk parkir sebentar, karena ia ingin menelpon. Isal parkir di depan toko perabot, jarak took tersebut 5 meter dari simpang empat Pasar Pusat.
Tiba-tiba ada lelaki tegap dengan memakai seragam coklat khas, tali pinggang warna putih, ada sarung lengan tangan putih dan sepatu yang menutup tulang keringnya nyaris sampai lutut, datang menghampiri Isal. Isal merasakan, lelaki itu muncul karena sudah tahu bahwa isal akan parkir di sana . Lelaki itu bak seorang tukang becak yang sedang mencari penumpang bahkan bak seeokor buaya yang sedang mencar i mangsa. Mengintai dan membuat jebakan. Entahlah, tetapi kini isal mulai cemas dengan memikirkan, mencoba menebak, perlakuan apa yang akan ia dapatkan dari lelaki itu. “Ini jalan satu arah”, ungkapnya pelan sekali, seperti suara berbisik. Isal hampir tidak mampu menangkap maksud dari suara pelan lelaki itu.”Mana surat-suratnya dek?”, request lelaki itu dengan nada meyakinkan isal bahwa ada yang akan dipermasalahkan. Isal keluarkan STNK motor Adi dari dompetnya. Isal mereview ingatannya,sambil bergumam dalam hati, ”untung tadi STNK nya juga aku pinjam dengan Adi, mudah-mudahan ini hanya intermezo di jalan”. STNK sudah ditangan lelaki itu. Lalu meminta Isal mengeluarkan SIM. Firasat Isal mulai menebak, dan kali ini tebakannya akan 100% benar setelah lelaki itu mencatat nama dan nomor yang ada di SIM. Benar, Isal kena tilang. “Nanti datang ya pada persidangan untuk mengambil SIM kamu pada hari Jumat” jelas lelaki yang mungkin sudah punya anak lebih tua dari Isal. Isal mencoba menjelaskan, ia tidak sengaja dengan kesalahannya, ia sudah salah jalan, yakni jalan melawan arah di jalan yang hanya boleh satu arah. Isal memang tidak melihat rambu-rambu yang menjelaskan bahwa jalan ke Pasar Pusat itu hanya untuk satu arah. Tidak ada jawaban lain dari lelaki itu, selain kalimat yang pertama tadi diulang kembali. “Pak, ada alternative lain tidak pak?”, pungkas Isal untuk mencoba memenangkan keadaan. “Ada , sidang atau denda 60ribu?”jawab singkat lelaki itu. Isal kali ini tidak berfikir panjang, seolah karakternya yang berfikir lebar panjang itu menguap seperti menguapnya air karena teriknya panas mentari. Walaupun sesekali ada terfikirkan kalau ia sedang digrogoti oleh aparat yang mencari uang tak jelas di jalanan. Menurut isal lebih hina dari anak jalanan yang kerap kali meminta kepada pengunjung jalan. Tetapi fikiran itu tak kuat. Akhirnya Isal memutuskan untuk membayar denda 60ribu yang ditawarkan lelaki itu. Isal beranggapan, kalau mesti ikut sidang hari Jumat. Semuanya pasti akan membuat isal ekstra, double, berlipat-lipat menjadi berfikir, berfikir, berfikir menjelang hari Jumat itu. Belum lagi harus menjalankan agenda perkuliahan yang sudah tersusun, bisa-bisa kuliah jadi korban dengan sidang pengambilan SIM itu. Untuk tawaran dari lelaki tadi, Isal dengan berat hati merogoh uang di dompetnya sebesar 60rb.
Setelah kejadian itu. Semua menjadi terbuka cakrawala hikmahnya. Isal langsung menyadari, mungkin ini teguran buat dirinya. Ia teringat, sebelum meninggalkan SPBU, saat mengisi bensin motor, ia mendengar suara adzan, dalam hati ada decision yang harus dijawab : “sholat dulu atau lanjut jalan ya?”, tetapi Isal lebih memilih untuk lanjut jalan, sholat bisa nanti setalah dari pasar. “Astaghfirullah hal adzim…”, terdengar halus dari mulutnya. Isal sadar bahwa ia sudah menunda-nunda waktu sholat. Seharusnya sholat menjadi prioritas utama dari yang lainnya.
semoga bermanfaat... :)
sama -_- kena tilang kaya gitu juga T.T
ReplyDeletehaha..
ReplyDeletenasib kita sama dimz..
dasar tu pak poli*i, -_-