Seminggu ini, aku sudah beraktivitas di kampus, kampus PCR (Politeknik Caltex Riau). Kuliah matrikulasi tepatnya. Kuliah matrikulasi ini adalah kuliah pendahuluan yang bertujuan untuk menyamakan konsep dan persepsi tentang materi-materi dasar, seperti matematika, fisika, komputer, bahasa inggris dan bengkel teknik dasar untuk mahasiswa baru PCR G-10. Asyik, menyenangkan, dan aku menikmati matrikulasi ini.
Kalau di SD, SMP dan SMA kita sebut adalah Guru, kalau sekarang di perkuliahan adalah Dosen. Sebenarnya Dosen juga guru, mungkin hanya statusnya saja yang lebih tinggi karena mengajar di bangku perkuliahan. Aku senang dengan semua Dosen yang mengajar di matrikulasi ini. Dosen Bahasa Inggris Mam Santi, Dosen Matem Pak Dadang, Dosen Fisika Pak Jup, dan Dosen BTD (Bengkel Teknik Dasar) Pak Arif. Semuanya punya karakter dan ciri khas masing-masing dalam mengajar.
Di perkuliahan matrikulasi ini, aku tidak hanya mendapatkan ilmu akademik, melainkan juga ilmu hidup di kehidupan, hidup di kampus dan hidup di perkuliahan. Ada motivasi disetiap pertemuan dengan dosen.
Pak Dadang, dosen Matematika ku di perkuliahan matrikulasi ini, beliau biasanya memulai perkuliahan dengan cerita-cerita yang memotivasi dan mengakhiri juga dengan motivasi. Cara mengajarnya bagus, jelas, dan bisa diikuti. Bidang beliau bukan matematika, tapi beliau bilang, kita bisa menyelesaikan soal matematika dengan logika, tidak selalu harus terpaku dengan rumus, makanya dia juga bisa mengajar matematika. Aku setuju dengan beliau.
Diawal pertemuan kelas kami, beliau memotivasi dengan sebuah cerita. Ini tentang hidup.
Ceritanya, ada seekor monyet di pantai. Suatu ketika monyet ini ditemui oleh angin. Angin berkata pada monyet, “Hei monyet, aku ingin menantang kamu!”. Monyet \ merasa tertantang, dan langsung menjawab,
Monyet : ”Nantang apa? Oke aku gak takut.”
Angin : “Tantangannya seperti ini, silahkan kamu memanjat pohon kelapa yang ada di tepi pantai itu, setelah kamu berda di pohon, aku akan meniupkan 2 jenis angin untuk kamu. Angin pertama, angin topan atau angin yang paling kuat di dunia ini. Angin kedua adalah angin sepoi-sepoi, atau angin semilir. Tantangannya, kalau kamu terjatuh aku yang menang, tetapi kalau kamu bisa tetap bertahan di pohon kelapa itu setelah aku tiupkan 2 jenis angin, kamu yang menang.”
Monyet : “Hahaha...oke-oke. Aku terima tantanganmu. Aku akan manjat sekarang.”
Monyet sudah diatas pohon kelapa. Angin yang pertama datang, angin yang kuat sekali, topan, badai, dan sejenisnya. Ternyata monyet bisa bertahan. Semakin kuat angin kuat itu menerpa monyet, pegangan monyet terhadap batang kelapa semakin erat. Angin gagal. Belum kalah, karena masih ada angin jenis kedua.
Selanjutnya, angin kedua datang. Angin ini adalah angin yang sepoi-sepoi, angin semilir. Angin ini membuat kuduk monyet gemetar. Angin menerpa tubuh monyet dengan lembut. Ini membuat monyet terlena, dan kemudian tertidur, dan akhirnya monyet terjatuh. Dengan jatuhnya monyet, berarti pemenangnya adalah Angin.
Dari cerita diatas, kita bisa mengambil sebuah pelajaran. Ternyata orang-orang yang diberi tugas dan cobaan yang berat akan membuat mereka semakin kuat. Itu adalah proses pendewasaan. Begitulah kuliah di politeknik ini. Dari Senin sampai Jumat, dari jam 7.00 Wib – 16.00 Wib, mahasiswa PCR diberi tugas tiap hari, baik itu laporan atau yang lainnya. Diakui itu berat, tapi itulah cara yang akan buat kita menjadi lebih kuat dari tugas-tugas yang diberikan tersebut. Aku secara pribadi yakin dengan hal itu. Tugas dan pekerjaan berat pasti bisa kita selesaikan kalau kita mau mengerjakannya.
No comments:
Post a Comment
KOMENTAR ANDA, MOTIVASI BAGI SAYA...!