Sunday, September 26, 2010

Kuliah asyik, Hujan-hujanan Pertama di Pekanbaru

Bismillahirrahmanirrahim.
Sabtu, 25 Sepetember 2010, 23:26 WIB.
Seminggu itu ada 7 hari, 168 Jam, dan 10080 Detik (benarkan perkaliannya??). Apa yang sudah aku lakukan? Dan seberapa banyak sudah aku syukurkan atas nikmat yang kudapat? Syukurku yang kesekian kalinya adalah karena sekarang aku bisa mengetikkan apa yang bisa dibagikan untuk yang sering berkunjung di blog ini.

Tentang Kuliah.
Semakin asyik aja. Ritme perkuliahan di PCR sudah terasa nikmat di hidupku. Ruang kelas, Labor, Perpustakaan, Mesjid Kampus, Mesjid Baitul Muktamar (tak jauh dari kos) dan kedai nasi Teteh (tempat makan kami, Rp 7000, makan puas), adalah tempat-tempat yang sering aku kunjungi. Di PCR, kelasnya nyaman sekali, labornya lengkap dengan alat-alat praktikum, perpustakaannya kaya dengan buku-buku referensi dan buku-buku penunjang perkuliahan, serta Mesjid kampus yang menjadi tempat untuk bisa bersyukur atas nikmat dan bermunjat kepada Allah SWT. Hemm di kampus, aku betah sekali berlama-lama di perpustakaan. Internet gratis serta buku-buku menarik selalu ready untuk digunakan. Tak ketinggalan pula media cetak, koran lokal maupun nasional, yang Bahasa Indonesia maupun English, menjadi jendela untuk melihat apa yang terjadi pada dunia, lokal, nasional maupun internasional. Dalam 1 minggu ini aku tahu banyak tentang apa yang terjadi di dunia. Itu menjadi bahan menarik yang bisa aku bagikan kepada teman-teman, di kos dan di sana.

Kelas yang paling bergairah untuk diikuti adalah matematika. Ini bukan berarti kelas yang lain tidak. Kelas matematika, menurutku, memiliki daya tarik tersendiri bagi yang menyadarinya. Dosen matematika kami, mengajar dengan cara yang efisien sekali. Materi pelajaran, motivasi, pengalaman hidup, cerita lucu berhikmah, sampai filosofi-filosofi menjadi 1 paket pada jam matematika itu.
Minggu ini, beliau bercerita tentang pengalamannya. Beliau bercerita tentang pacaran. Beliau termasuk orang yang tidak setuju dengan pacaran. Kecuali pacaran setelah menikah. Setamat kuliah di PCR, beliau melanjutkan di ITS Surabaya. Selama kuliah beliau tidak pacaran. Tamat dari ITS, dan beberapa bulan kemudian beliau menikah. Ceritanya lagi, waktu melamar, beliau hanya bertemu dengan calon istri sekitar 30 menit / setengah jam. Dan itu juga belum bicara / ngobrol. Beliau hanya lihat calon istrinya sedang duduk. Serentak kami sekelas, kaget, kagum, dan heran menjadi satu. Tapi semua kaget, kagum, dan heran kami terjawab, ketika beliau bilang, "kami sedang pacaran sekarang, dan Alhamdulillah belum pernah bertengkar selama 3 tahun."
Hemm, cerita yang unik. 

Konvoi ke Panam, Kehujanan.
Sore itu, tidak panas dan tidak pula tidak panas, hehehe.. Aku sudah didepan gerbang PCR bersama ilham (teman 1 kos) dengan motor vixion biru, bersiap untuk ke ATM. Uangku lagi habis, saldo di dompet Rp 0. Ilham mau untuk singgah sebentar di ATM, sebelum kembali ke kos. Tapi tunggu, ada yang ngajak ke UNRI, jalan-jalan. Hah? Ide bagus, batinku. Tapi mau ngapain di sana? Katanya, "kita ke rumah teman ku aja, namanya Fatma", tegas ilham. Sepakat, tancap gas langsung jalan. "Tapi singgah d atm dulu ya bentar", sambungku. Dimulailah, konvoi kami menuju Panam. Dengan nyelip-nyelip di jalanan Kota Pekanbaru, meskipun aku agak deg degan, karna belum terbiasa, akhirnya kami tiba di Panam, di rumah teman ilham, pada waktu menjelang magrib. Setalah bercengkrama sebentar, langsung kami ke Mesjid di UNRI. Ba'da magrib, hujan deras turun, suasana semakin extrem saat kilat menerangi langit, dengan bentuk garis-garis, listrik langsung padam, membuat kami serentak komat-kamit, "Astgfirullah,,, La haula wa quata illa billah....". Beberapa detik setelah kilat, suara petir terdengar keras sekali, "Duarrrrrrr......". Setelah itu, hujan tetap masih deras, kami duduk-duduk saja di dalam mesjid, menunggu hujan deras reda.
Adzan Isya pun datang, langsung kami sholat. Alhamdulillah setelah sholat Isya berjamaah, hujan reda. Kami langsung lanjut jalan, untuk pulang kembali ke kos. Diperjalanan, hujan tak bisa dibendung lagi, dan kami juga terlalu lapar kalau mesti berhenti untuk menunggu hujan reda lagi. Alhasil, sejarah hujan-hujanan pertama aku di Pekanbaru tertulis. Hujan, seperti biasa mengingatkan aku dengan seseorang. Dia yang memberiku informasi penting arti tentang hujan. Gas motor rasanya tak turun-turun, hingga akhirnya kami berhenti di sebuah tempat makan. Makan mie dan nasi goreng hangat bersama menjadi penutup konvoi kami hari itu, hari terakhir kuliah di minggu ini, hari yang melengkapi aktivitas perkuliahan yang padat.

4 comments:

  1. ada yang kurang de,
    pulang pulang masuk angin semua
    hahaha
    (irsyad)

    ReplyDelete
  2. Hahahaha..
    Klu aku mah gak masuk angin, irsyad..
    Pilek berat..
    No Prob lah..
    yg penting happy n kebersamaan kita dapatkan.

    ReplyDelete
  3. bener banget tu,, stuju aku

    ReplyDelete
  4. irsyad,, aku tunggu nih peluncuran ur webblog!

    ReplyDelete

KOMENTAR ANDA, MOTIVASI BAGI SAYA...!